3 SISI LAIN ILMU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

  1. Ilmu sebagai pemahaman
Iqra = bacalah.. Dalam aplikasi sehari-hari bacalah tidak hanya sebatas mengeja kata perkata,  kalimat menjadi sebuah pragraf,  tidak sebatas mengucapkan dari teks-teks Al-quran bahkan huruf di dalam buku.  Apalagi apabila kita memahami kesemuanya itu diperoleh dari jenjang formal seprti sekolah ataupun pesantren.  Bacalah yang dimaksudkan merupakan mampu,  memahami,  merepson,  mengkaji,  serta memberikan solusi terhadap kejadian, persoalan,  bahkan selaku pendakwah yaitu mencontohkan secara baik melalui kata dan perbuatan.  Artinya sangat keliru apabila melihat ilmu itu sebatas pengetahuan gelar namun tak mampu senyum,  menyapa tetangga rumahnya.  Tak mampu membantu orang-orang yang membutuhkan solusi ditengah problem kehidupan yang mengutamakan teknologi ketimbah bersilaturrahim.

Sebagai pengantar mari kita melihat kisah imam syafi’i disaat memberikan pemahan terhadap muridnya, dalmkisahnya: "wahai guruku,apabila aku membunuh apakah Tuhan menerima taubatku,  dan memasukkan aku kesurga?" dijawab oleh Imam Syafii "jangankan untuk memaafkan,  memberimu peluang untuk kesurgapun tak akan ada". Di hari kedua murid bertanya lagi terkait pertanyaan yang sama. "Wahai guruku apabila aku membunuh apakah taubatku diterima?" dijawab “bahwa Allah itu maha pemaaf maka Sebesar apapun dosamu maka engkau akan diterima dan dimasukkan ke dalam surga.  Muridpun terharan, lalu dilanjutkan oleh guru,  percayalah yang pertama itu saya jawab dengan alasan, yang bertanya memiliki niat untuk membunuh maka sebaiknya untuk melarangnya, saya beri jawaban seperti itu.  Yang kedua saya jawab dengan alasan, yang bertanya orang yang telah membunuh agar dia sadar dan faham bagai mana Allah dan agama islam memberi jalan buat hambanya selalu memiliki harapan terkait agama dan Allah.

Inilah mengapa ilmu perlu difahami bahkan apapun yang terkait kondisi hari ini,  agar kita mampu menjaga keutuhan didalam,  berkeluarga,  masyarakat,  hingga bangsa. Tidak mudah teprofokasi bahkan termakan emosi didalam kehidupan sehari-hari.

  1.  Ilmu Sebagai Penguji Proses Kehidupan dan Bersungguh-sungguh
Utlubul ilmu ilal lahdi, ilal mahdi, tuntutlah ilmu mulai dari ayunan hingga keliang lahat dalam penjelasan sepengetahuan penulis ilmu itu merupakan jalan,  tahapan,  dari kita memulai kehidupan hingga berakhirnya perjalanan kita diduni ini, saat itu juga  mencari ilmu berakhir. Mengapa hal ini sangat penting? Ternytata berkaitan dengan poin pertama maka ilmu mengajarkan kita tentang proses bagaimana kita menjalaninya dari awal hingga akhir. Sehingga sangat aneh saat kita masih dalam tahap mengenal lingkungan sekitar kita, ibarat manusia yang baru belajar berjalan sudah menginginkan dirinya berlari, masih butuh untuk mengamati, belajar lantas tanpil kedepan seolah dirinyalah yang paling benar. Paling anehnya lagi hari ini dengan kehidupan yang serba digital kita layaknya memahami segala sesuatunya tanpa meilhat sesuai kemampuan masing-masing. Makanya tak heran negara ini contohnya ribut, dikarenakan orang yang kemampuannya di dakwah dan mendidik berusaha tanpil seolah menjadi pakar politik yang menguasai segala jenis pemerintahan.begitupun sebaliknya, yang berakhir dimuara masyarakat yang menyerapnya tanpa memilah dan memilihnya.

Kisah nabi ibrahim sedangkan apabila kita melihat kisah nabi Ibrahim didalam melawan raja namrud saat ingin dibakar, para malaikat turun dan mengatakan ke nabi ibrahim,”apabila engkau menginkan segalanya maka aku akan merubah raja dan segala apa yang dimilikinya berakhir saat ini juga”, namun bukannya menerima tawaran malaikat, nabi Ibrahim menjawab ”Aku mempercayai Tuhanku melebihi segalanya”.yang berarti  keyakinan nabi Ibrahim kepada tuhan yang termaniestasikan atas proses dan kesungguh-sungguhan terhadap apa yang dimilikinya beserta kebesaran Tuhannya.

Olehnya itu apabila kita membawa dalam keseharian, saling percaya didalam menjalankan tugas dan tanggung jawab baik seorang ilmuan, dai, dokter, dan sebagainya.

  1. Ilmu Sebagai Derajat
Puncak dari segala yang kita laksanakan akan berkhir dengan hasil terbaik. Sebagaimana ilmu yang dibarengi dengan moral maka akan menghasilkan derajat setiap orang berilmu itu melampaui apayang difikirkannya, sebagaimana ayat AL-Qur’an Yarfa’illahu al-ladzina amanu minkum walladzina utul ‘ilma drajat. Allah akan mengangkatderajat orang beriman diantara kamu dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Ilmu yang baik adalah memberi dampakorang-orang di sekitarnya merasa baik. Dalam kaidahnya rumah yang baik akan menghasilkan penghuni yang baik juga namun penghuni yang baik akan memuliakan tamunya. Namun paling utama tamu harus mampumemahami aturan yang berlaku didalam rumah dan penghuninya. Puncaknya ilmu sangat penting namun apabila harus dipilih maka moral yang di identikan dengan masyarakat sulawesi selatan sikap mapakalebbi, memanusiakan manusia, menghormati hingga tahu kondisi dimana berada. Karena ilmu saja kalo di handalkan akan menambah penuh dan jumlahnya penjara-penjara yang membantu tugas dan wewenang aparatur hukuml. Mayoritas orang-orang yang bergelar ilmu melampaui jumlah manusia yang tidak memiliki gelarnamun disisi lain mereka jugalah yang berlomba-lomba mengisi sel-selaparatur hukum diindonesia.

Inilah pengantar pemahaman dan keterbatasan penulis yang mencoba berbagi tentang perlunya ilmu dipandang jauh melampaui akal.yaitu apabila perlumemilih antara ilmu dan moral, maka utamakanlah moral, meskipun bukan berarti ilmu itu kita tolak. Akan tetapi sekali lagi ada usaha dan keterbatasan manusia yang dibutuhkan adalah doa.

Akhir kata untuk pembaca yang baik, kekurangan tulisan ini menjadi pembenaran penulis tentang keistimewaan manusia yang serba memiliki kekurangan. Yang kemudian menjadi bahan intropeksi untuk memperbaiki diri dalam berkehidupan dan beraktiitas dalamsehari hari

Tulisan ini telah terbit di Pare.Pos

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budaya Lokal Suatu Bentuk Solidaritas Sosial

Media dan Ideologi Penolakan Jenazah Corona