Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

PRIOIRITAS KEBIJAKAN: BENARKAH KITA MISKIN DI INDONESIA ?

Hari ini kita disibukkan dengan pembahasan virus Corona dan pengesahan Undang-undang Omnibus Law yang tidak berujung dan tiada akhir. Seolah-olah kita menganggap bahwa kemiskinan terjadi di Indonesia diakibatkan sepenuhnya dua hal yang berada diatas kasus yang lagi mengisi hangatnya media yang merajalela. Aparatur negara yang dianggap sepenuhnya bertanggung jawab didalam melihat kondisi masyarakat yang membutuhkan kejelasan dan oketerbukaan di dalam arus pemberitaan.   Sehingga tidaklah heran ketika di media hari ini perdebatan persoalan virus Corona dan Pengesahan Omnibus law menjadi pro dan kontra. Meskipun kita memahami baik pro maupun kontra sejatinya menginginkan Indonesia lebih baik, namun strategi yang dilaksanakan berbeda baik dari yang pro maupun yang kontra. Sedangkan apabila kita mempelajari dan melihat kehidupan masyarakat Indonesia dalam kajian kemiskinan, miskin selalu dikaitkan erat dengan sosial ekonomi masyarakat. Sehingga begitu banyaknya agama dan aliran keil...

3 SISI LAIN ILMU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Ilmu sebagai pemahaman Iqra = bacalah.. Dalam aplikasi sehari -hari bacalah tidak hanya sebatas mengeja kata perkata,   kalimat menjadi sebuah pragraf,   tidak sebatas mengucapkan dari teks -teks Al-quran bahkan huruf di dalam buku.   Apalagi apabila kita memahami kesemuanya itu diperoleh dari jenjang formal seprti sekolah ataupun pesantren.   Bacalah yang dimaksudkan merupakan mampu,   memahami,   merepson,   mengkaji,   serta memberikan solusi terhadap kejadian, persoalan,   bahkan selaku pendakwah yaitu menco n tohkan secara baik melalui kata dan perbuatan.   Artinya sangat keliru apabila melihat ilmu itu sebatas pengetahuan gelar namun tak mampu senyum,   menyapa tetangga rumahnya.   Tak mampu membantu orang -orang yang membutuhkan solusi ditengah problem kehidupan yang mengutamakan teknologi ketimbah bersilaturrahim. Sebagai pengantar mari kita melihat kisah imam syafi’i disaat memberikan pemahan terhad...

Hiperialitas Tukang Gali Kubur

Mengawali tulisan ini mari kita bersama mendengarkan sedikit kisah (Jean Baudrillard) dalam sebuah argumentasinya terkait kekuatan media. “Suatu hari seorang anak kecil yang menangis bersama ibunya (orang tuanya) di pusat perbelanjaan. Yang ditangisinya adalah alat pembalut perempuan. Bagi sang ibu permintaan anak sangatlah aneh, dikarenakan umur dan kebutuhannya tidak sesuai dengan permintaan anakanya. Lama memberikan penjelasan sang ibu tersadar, sebelum berangkat ke pusat perbelanjaan anak menonton iklan terkait salah satu pembalut yang dengan memakainya semua bisa terpenuhi. Bisa naik kuda, bisa terbang, bisa kemana-mana dan sebagainya”. Inilah mengapa eksistensi media menjadi bagian yang penting dan tidak bisa dihindari pada masa-masa ini. Meninggalkan pengantar di atas, sekarang kita berupaya memperjelas “masa” yang dimaksudkan beriringan dengan kebijakan yang kian membutuhkan media sebagai Tuhan-Tuhan kecil menurut (Brooke ed). Artinya, hampir dari segala kebijakan di setia...

Moderasi Pendidikan Muhammadiyah dan NU di Indonesia

Perkembangan Islam dalam rentang sejarah melahirkan politik dan agama yang menghasilkan munculnya gerakan Islam politik yang saling berhadap-hadapan. Satu sisi Islam yang melakukan tindakan radikal sementara sisi lain Islam yang bertindak secara moderasi (jalan tengah). Dari sudut gerakan Islam mainstrem yang berhaluan radikal selalu menunjukan beberapa aktivitas terorisme. semua dapat dilihat dari aksi perlawanan dengan taktik konfrontasi kekerasan dan obyek atau sasaran aksi tersebut seperti aksi pengeboman di rumah ibadah, hotel dan fasilitas umum lainnya bahkan daerah yang menjadi sasaran praktis gerakan tersebut. Pada dekade 1999 hingga 2009 menegaskan bahwa Indonesia tempat “subur” bagi perkembangan ideologi Islam garis keras. Uniknya kelompok Islam yang menggunakan perlawanan dengan cara “terorisme” tersebut hadir di tengah masyarakat Indonesia pasca runtuhnya Orde Baru dengan sistem politik represifnya. Ada ruang yang selama masa Orde Baru dapat “dikendalikan” tetapi pada ...