Budaya Lokal Suatu Bentuk Solidaritas Sosial
Sukarno pernah berdiri dan bersuara lantang untuk Indonesia, dikenal pendiri bangsa namun diakhr rezim orde lama memilih untuk merelakan dirinya menjadi tahanan rumah, dijauhkan dari masyarakatnya, hingga mengakhiri masa kepemimpinannya, demi kemajuan negeri ini.
Bung karno berusaha angkat bicara, namun kemudian mendaptkan mosi tidak percaya menentang yang diperlakukannya. Sehingga orde lama berlalu dan orde baru datag dengan menghasilkan pertanyaan akan bangsa dan negara dalam babak baru.
Dari bangsa yang tak pernah diam dalam satu masa kemudian melahirkan pemimpin dikenal dengan motto gitu aja kok repot, iya Gus Dur, seorang yang penuh dengan keterbatasan fisik namun beribu macam kontroversi. Terpilih dengan pemilihan langsung menjadikan Indonesia perbincangan di seluruh dunia. Seolah hanya mimpi masanya banyak dilaksanakan dengan keliling dunia.salah satunya negara Israel.
Sebagai seorang kiyai dan hidup di keluarga ulama, menjadikannya lantas menyikapi persoalan dengan begitu banyak tawa. Buktinya saat detik-detik beliau diberhentikan menjadi orang pertama Indonesia, dia keluar dari dalam istana didampingi anak dan keluarga dan beberapa menteri. Yang begitu indah Gus Dur keluar dengan baju kaos dan celana pendek, sebuah tanda yang menyampaikan kisah beribu makna diakhir kekuasaan. Serta tanpa adanya pertumpahan.
Kritis Sosial Kekuasaan
Kebijakan timpang bermula dari proses pelaksanaan dan penggarapan yang didasarkan pada prinsip kekuatan semata, bukan karena kebutuhan masyarakat. Kekuatan yang dimiliki oleh pemangku kepentingan dan dilegitimasi oleh hukum. Tak ayal sturtuktur kekuasaan berjalan hanya untuk golongan dan kelompok tertentu.
Konsentrasi logis dan daya yang memprioritaskan kekuatan diatas segalanya, yaitu daerah pemiskinan akan terbuka luas, baik kemiskinan dari segi materi dan non materi. Dari segi materi pemiskinanakan bermula dari masyarakat kehilangan alat produksi, mempengaruhi kerja sesuai aturan yang dibuat kepentingan pribadi dari pemangku kepentingan yang hanya diambil dari golongan tertentu.
Dari segi non materi, lonceng kemiskinan berbunyi saaat masyarakat kehilangan nilai atas dirinya sendiri dan tak betul-betul menyadari kondisi yangdihadapinya saat ini, akibat ulah kediktatoran, ditambah lagi beroperasinya mesin penguat masyarakat yang dikenal fasisme.
Atas nama apapun, jika sebuah kekuasaan atau bangku pemerintahan dikemudikan oleh keuatan bebas, maka keyakinan tak akan pernah muncul dari orang-orang yang tak punya kekuatan dari segi ekonomi, budaya dan simbolik.
Bourdiue menjelaskan menjelaskan, bahwa manusia adalah plastik, yaitu manusia yang tidak dapat ditentukan mahluk bermoral diatas kekuasaan.manusia melepaskan segalanya yang mengutamakan kualitas sistem. Jikalau sistemnya bermoral, maka manusianya akan menjadi bauik begitupun sebaliknya.
Perenungan Lokal Bugis
Dalam kisah negeri Bugis “Legenda tentang Suap” ada perbincangan akan tawaran di abad ke-16, Kajao Laliddong dari Bone berbicara bahwa salah satu tanda kehancuran suatu negara ialah para hakim menrima suap, naanreki waramparang to mabbicarae. Bila seorang hakim (pabbicara) menerima suap, maka ia pun dihukum tujuh kali lipat dibanding pejabat lain.
Di Addatung Sidenreng, di kenal hakim bernama Nenek Malomo. Di kerajaan Soppeng, Datu La Baso Toakkarageng memimpin persidangan dalam mengadili, menghukum dan mengeksekusi La Baso Toakkarangeng, yaitu dirinya sendiri.
Kerajaan Tosiwalu, seorang hakim perempuan, I Tenribali memberikan eksusi kmati kepada adik kandungnya sendiri, dikarenakan menerima suap dan melakukan tindakan mengadaikan siri (harga diri).
“Ajja mupoloi olona tau laingge (jangan haknya orang lain).” Hal itu merupakan sebuah pesan adegium kepada kebudayaan bugis yang menjadi pantangan untuk dilakukan secara turun temurun kepada regenerasi.
Inilah yang menjadikan to ogi (manusia Bugis) mampu menjunjung tinggi nilai-nilai semangat dalam menjalani proses kehidupan dengan nilai memanusiakan diantara sesama manusia.
Kendati demikian budaya lokal yang di dipertontongkan kutipan diatas pada masa ini masih sangat relevan dengan konteks kehidupan dewasa ini,meskipun tidak semuanya. Akan tetapi, kebudayaan kuno yang bernapaskan penegakan kebenaran dan memepertinggi kemanusiaan, adalah keharusan yang harus tetap termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Puncak Budaya dan Solidaritas Sosial
Menurut yang dikemukakan oleh Selo Soemardjan bahwa kebudayaan merupakan semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat, oleh karena itulah bentuk kegiatan Yasinan maupun Marhabah yang dilakukan tradisi masyarakat muslim tidak terlepas dalam mewujudkan solidaritas antarwarga.
Dalam persiapan kegiatan biasanya warga setempat saling gotong royong untuk mensukseskan acara tersebut. Sebagaimana dalam tradisi bangsa kita bahwa gotong royong merupakan karakteristik dari masyarakat bangsa ini. Dengan adanya seolidaritas warga yang tinggi, jelaslah akan mewujudkan suatu masyarakat yang ideal sesuai yang diharapkan.
Misalnya melihat masyarakat yang dicitakan Islam adalah masyarakat yang digambarkan didalam Al-Qur’an dengan sebuah masyarakat Mardhatillah atau Baldhatun Thaoyyibatun wa Robbun Ghofur (QS.34:15). Untuk itu mencapai hal itu haruslah disusun suatu rangkaian pola yang jelas dan terarah diantaranya: 1. Ummat yang satu, 2. Umat yang bertaqwa, 3. Pemimpin yang Adil dan bijaksana.
Tulisan Telah Terbit di https://tegas.id/2019/12/07/opini-budaya-lokal-suatu-bentuk-solidaritas-sosial/
Komentar
Posting Komentar