RAMADHAN AWAL KESEMBUHAN
Ibnu sina menyatakan “Kepanikan adalah
separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah awal
kesembuhan”.
Sejalan dengan kutipan Ibnu sina
diatas, dengan masuknya ramadhan merupakan hal yang kita rindukan dari bulan-bulan
yang lain. Dikarenakan kita diajarkan untuk menahan. Uniknya lagi menahan yang
dimaksudkan seiringan dan sejalan terkait program melawan wabah virus covid19.
Berpuasa untuk menahan interaksi sosial, berpuasa dalam bepergian, berpuasa
untuk melakukan kegiatan yang awalnya kita inginkan harus kita tinggalkan.
Untuk lebih jelasnya kaidah bahasa Arab
puasa disebut “shaim atau shaum”, keduanya merupakan masdar (kata
dasar) dalam bahasa Arab dan bermakna menahan. Sementara menurut istilah, puasa
adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar
sampai terbenam matahari. Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ
مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)
Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu,
barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu,
maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam
perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa). (Q.S. Al-Baqarah: 185).
Bulan ramadhan adalah bulan suci, salah satu bulan mulia dan
agung dalam Islam. Bulan ini adalah merupakan kesempatan yang luas bagi
hambanya untuk kembali kepada Allah yang Mahakuasa dengan kesadaran diri penuh
akan dosa-dosanya.
Selain dikenal sebagai bulan mulia dan suci. Ramadhan juga dikenal
sebagai dimana kejahatan ditutup dan kebaikan dibuka. Ramadhan adalah bulan
penghapusan dosa, pertaubatan, ditutupnya api neraka, dan dibukanya syurga. Rasaululah
Saw bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka
ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no.
1079).
Keberuntungan bagi orang-orang yang
mengenal dan memahami keistimewaan bulan suci ramdhan. Dengan kesadaran yang
dimaksudkan seorang hamba akan bersegarah untuk menuju pengampunan Allah seraya
menyesali dosa-dosa masa lalu dan berupaya kembali pada substansi dari bulan
ramdahan ini. Dari hadits Rasuslullah:
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ
أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
Sungguh sangat merugilah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan
kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya). (HR.
Tirmidzi)
Membaca dan telaah hadits
diatas, kita semua jelas menemukan peringatan bagaimana esensi Rasulullah Saw
memberikan pesan terkait bagaimana ummatnya memaksimalkan bulan ramdhan.
Sehingga saat bulan ini berlalu kitapun mendapat ampunan yang menurut penulis
bisa jadi bagian dari kesembuhan baik sembuhnya dari pertaubatan akan ramdahan
namun terlebih lagi kesembuhan terhadap penyakit, wabah, serta virus corona
yang menjadi penyakit di sebutkan dan diucap-ucapkan oleh seluruh dunia serta
kalangan apapun akhir ini.
Dalam Hadits Qudsi, Allah
berfirman, yang artinya “Wahai hamba-hamba-Ku! Setiap siang dan malam kalian
senantiasa berbuat salah, namun aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah
ampunan-Ku agar aku mengampuni kalian. (HR Muslim).
Oleh karena itu, sudah sangat
jelas bagaimana Allah juga menjamin pengampunan semua dosa hambanya, dikala
hambanya meminta pengampunan apalagi dibulan yang penuh ndengan keberkahan ini.
Karena rahmat dan ampunan Allah amatlah luas melebihi luas kesalahan serta
penyakit yang diderita oleh bumi akhir-akhir ini sekalipun. Tinggal bagaimana
kesungguh-sungguhan akan kesembuhan dan pertaubatan di bulan ramadhan ini di
laksanakan sebagai bentuk kesempatan emas yang sekiranya tidak mungkin
menghampiri kita kembali lagi.
Pembaca yang arif dan budiman
mari kita menutup tulisan ini dengan tetap berupaya menjaga amal dan ibadah
kita dibulan suci Ramadhan utnuk tidak terpengaruh meskipun sahalatnya dirumah,
interaksinya melalui media online, serta tak ada tatap muka secara langsung
karena pembatasan aktifitas.
Tulisan Telah Terbit di Pare.Pos
Komentar
Posting Komentar